Wednesday, December 2, 2015

Tips Merawat Sulaman Kain Songket

Buat beberapa orang, mungkin kain songket jarang menjadi pilihan utama dalam berbusana saatevent-event tertentu. Entah karena harganya yang memang bisa dibilang cukup mahal atau karena sebagian dari mereka menganggap bahwa merawat kain songket adalah hal yang sulit. Tapi ternyata melakukan perawatan untuk kain songket tidaklah sesulit yang dibayangkan.
Tidak Perlu Dicuci
Just FYI, kain songket merupakan kain yang biasanya dibuat dengan benang emas atau perak. Karena alasan inilah, kain songket tidak perlu dicuci. Apalagi, biasanya penggunaan kain songket memang hanya untuk occasion tertentu. Jadi, pencucian kain songket tidaklah diperlukan, kecuali kain songket tersebut tidak menggunakan material dari metal dalam pembuatannya. (Baca: koleksi songket Lampung murah)
Diangin-anginkan
Instead of dicuci, setelah kamu memakai kain songket kamu bisa menjemur kain tersebut. “Diangin-anginkan saja. Kalau memang perlu dibersihkan, paling keluarkan dari lemari setiap sebulan sekali dan bentangkan kain songket tersebut. Jika ada spot yang harus dibersihkan, bersihkan saja menggunakan kapas, cotton bud, atau kain basah untuk menghilangkan noda tersebut,” jelas Miranda.
Gunakan Kertas Bebas Asam
Saat kamu menyimpan kain songket di dalam lemari, pastikan kain songket tersebut digulung menggunakan kertas bebas asam. “Biasanya kan kain songket terbuat dari benang emas, nah karena benang logam itu sangat rentan terhadap kondisi asam, jadi kita harus pakai kertas yang bebas asam supaya kondisi benang metalnya bisa tetap terjaga,” jelas Miranda. Ia juga menjelaskan cara penggunaan kertas bebas asam ini pada kain songket. “Kain songket dialaskan dengan kertas bebas asam, kemudian digulung,” ujarnya.
Selain tiga cara di atas yang bisa menjaga keawetan kain songket, Miranda juga berpendapat bahwa membeli dan menggunakan kain songket menjadi salah satu jalan untuk melestarikan kain khas Indonesia ini. “Orang harus beli songket. Karena kalau orang punya apresiasi ke songket, pengrajin songket pun akan hidup. Kalau pengrajin hidup, budaya tenun akan tetap jalan dan dia bisa mewariskan itu ke generasi berikutnya. Tapi, ketika orang udah nggak apresiasi lagi dengan kain songket, otomatis lama-kelamaan pengrajin nggak akan bertahan. Mereka bekerja tapi penjualan nggak ada,” jelas Miranda.

Sumber:

http://www.fimela.com/

Gudang Songket Indonesia

Indonesia memiliki banyak khazanah budaya warisan leluhur yang tersebar di berbagai daerah. Sumatera Barat misalnya, selain terkenal dengan rumah gadang dan masakan rendangnya yang khas, juga dalam hal kain. Ya, anda pasti sudah sering mendengar kata songket. Kain mewah yang digolongkan dalam keluarga tenunan brokat ini kepopulerannya tidak kalah dengan batik.

Songket adalah bagian terpenting dalam tata busana Sumatera Barat atau Minangkabau karena biasa dikenakan dalam upacara adat pada tingkat tinggi. Baik upacara Batagak Pangulu (Pengangkatan Pemimpin Adat) maupun pada ragam prosesi dalam upacara pernikahan. Selai itu, songket juga menunjukkan kemuliaan derajat dan martabat pemakainya. (Baca: koleksi songket tapis murah)

Songket merupakan jenis kain tenunan tradisional. Ditenun dengan tangan menggunakan benang emas dan perak di atas alat yang bernama panta (alat tenun yang terbuat dari kayu, tempat merentangkan benang yang akan ditenun, biasanya berukura 2 x 1,5 meter). Selain benang emas dan perak, ada jenis benang sutera berwarna, benang sulam, benang katun berwarna dan sebagainya. Semua jenis benang tersebut bisa digunakan untuk menghias permukaan kain tenun, bentuknya seperti sulaman dan dibuat pada waktu yang bersamaan dengan menenun dasar kain tenunnya. Prinsip penggunaan benang tambahan saat menenun disebut songket, karena dihubungkan dengan proses menyungkit atau menjungkit benang lungsi (benang dasar) dalam membuat pola hias atau motif. Di Sumatera Barat, Pandai Sikek dan Silungkang merupakan daerah penghasil songket yang terkenal serta memiliki kualitas yang bagus.

Apabila kita melihat rangkaian benang yang tersusun dan teranyam rapi lewat pola simetris, menunjukkan bahwa kain ini dibuat dengan keterampilan masyarakat yang memahami berbagai cara untuk membuat kain bermutu, dan sekaligus mampu menghias kain dengan beragam motif. Keahlian, ketelitian, ketekunan dan kesabaran mutlak diperlukan untuk membuat songket. Pengetahuan ini biasanya dipelajari turun temurun dari generasi ke generasi.

Songket yang sejatinya memerlukan sejumlah emas asli utnuk dijadikan benang emas dapat dikenakan melilit tubuh seperti sarung, disampirkan ke bahu, sebagai destar atau tanjak (hiasan ikat kepala). Lazim dipakai oleh sultan, pangeran atau bangsawan Kesultanan Melayu. Mulanya hanya kaum lelaki yang menggunakan songket, kemudian barulah kaum perempuan yang mulai memakai songket, dililitkan sebagai kain sarung yang dipadu-padankan dengan kebaya atau baju kurung.
Songket sebagai salah satu bentuk seni rupa tradisional yang unik, sampai sekarang masih ditenun secara tradisional. Dahulu songket hanya boleh ditenun oleh anak dara, namun kini kaum lelaki pun turut menennun songket. Secara umum proses teknis pembuatan songket adalah merancang motif, menyiapkan benang, proses pewarnaan, menenun dan finishing.

Ragam-hias atau motif songket Sumatera Barat (disebut cukie) tidak hanya sekedar hiasan atau ornamen. Songket Minangkabau memiliki motif-motif tradisional yang sudah merupakan ciri khas budaya wilayah penghasil kain tenun tersebut. Motif songket umumnya berupa reka geometris, salur-salur dan bentuk tumbuh-tumbuhan karena alam dianggap sebagai sumber pokok dan penting bagi umat manusia. Namun ada juga motif yang dinamai dengan nama kue khas Melayu seperti serikaya, wajik, dan tepung talam, yang diduga merupakan penganan kegemaran raja.

Motif-motif yang ada pada Songket Minangkabau sejatinya memperlihatkan ajaran dan nilai kearifan, filosofiAlam Takambang Jadi Guru. Motif kaluak paku (pakis), menyiratkan pentingnya bersikap introspeksi. Motif pacuak rabuang (bambu), terseirat bahwa semakin tua dan berpengalaman hendaknya semakin merunduk. Motif bungo antimun (mentimun), tersirat bahwa dalam melakukan sesuatu haruslah secara sistematis dan mengakar. Motif bijo (biji bayam), tanaman bayam mudah tumbuh di mana saja. Ini diumpamakan seorang berilmu memberikan ilmu dengan ikhlas dan menerima imbalan yang juga ikhlas. Motif ilalang rabah (rebah), makna tersiratnya adalah tidak selamanya orang lemah menyerah pada penindasan.

Di sehelai songket, tersirat sebuah dinamika kehidupan yang kompleks dan beragam. Tidak heran jika beberapa pemerintah daerah di Sumatera Barat telah mempatenkan motif songket tradisional mereka.

Sejak dulu hingga kini, songket adalah pilihan populer untuk busana adat perkawinan Melayu, Palembang, Minangkabau, Aceh dan Bali. Kini dengan digunakannya benang emas sintetis, songket tidak lagi luar biasa mahal seperti saat menggunakan emas asli. Harga songket lebih bervariasi. Namun songket kualitas terbaik tetap dihargai sebagai bentuk kesenian yang anggun, bernilai budaya tinggi, dan dihargai cukup mahal. Kain songket terdiri dari tiga jenis, yaitu benang satu, dua, dan empat. Benang satu jauh lebih mahal dibanding benang dua dan empat. Membuat songket jenis ini perlu ketelitian yang tinggi karena benang harus ditenun helai dan helai, sehingga waktu menenunny alebih lama.

Ditengah kemajuan industri tekstil sekarang ini, dengan mesin-mesin tenun modern nan canggih, kerajinan songket maih terus hidup. Pengerajin songket kini berusaha menciptakan motof-motif baru yang lebih modern dengan pilihan warna yang ebih banyak. Hal ini sebagai upaya agar songket senantiasa mengikuti zaman dan digemari oleh masyarakat luas.

Sumber:

http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/

Wednesday, April 8, 2015

Songket Lampung Motif Ayat Kursi Bordir

- Songket tenun khas Lampung dengan hiasan motif dari benang emas yang dirangkai dengan metode bordir.
- Ukuran panjang kain = 100 cm dan lebar = 60 cm.
- Songket khusus yang didesain untuk hiasan atau pajangan dinding.
- Motif dibuat dari benang emas pelintir kualitas tinggi.
- Asli dibuat oleh pengrajin Lampung
- Harga Rp 200.000,-
- Gratis biaya kirim untuk wilayah Jabodetabek


Songket Ayat Kursi Bordir

Songket Lampung Motif Ayat Kursi Sulam (STANDAR)

- Songket tenun khas Lampung dengan hiasan motif dari benang emas yang dirangkai dengan metode sulam tangan.
- Ukuran panjang kain = 100 cm dan lebar = 60 cm.
- Songket khusus yang didesain untuk hiasan atau pajangan dinding.
- Motif dibuat dari benang emas pelintir kualitas tinggi.
- Asli dibuat oleh pengrajin Lampung
- Harga Rp 550.000,-
- Gratis biaya kirim untuk wilayah Jabodetabek





Songket Lampung Motif Ayat Kursi Full Benang Emas

- Songket tenun khas Lampung dengan hiasan motif dari benang emas yang dirangkai dengan metode sulam tangan.
- Ukuran panjang kain = 100 cm dan lebar = 60 cm.
- Songket khusus yang didesain untuk hiasan atau pajangan dinding.
- Motif dibuat dari benang emas pelintir kualitas tinggi.
- Asli dibuat oleh pengrajin Lampung
- Harga Rp 750.000,-
- Gratis biaya kirim untuk wilayah Jabodetabek



Mengenal Kisah Hidup Yusuf Islam

Hidayah memang bisa datang kapan saja dan untuk siapa saja. Tak terbayangkan sebelumnya jika Cat Stevens, penyanyi yang sebelumnya bergaya hidup bebas tanpa ikatan norma-norma agama akhirnya insaf dan menjadi mualaf. Tidak berhenti sampai disitu, ia juga rela meninggalkan gemerlap dunia panggung hiburan dan memilih membaktikan hidup dan hartanya demi Islam dan kemanusiaan.

Lahir dengan nama Stephen Demetre Georgiou, di London, 21 Juli 1948, ia mengubah namanya menjadi Yusuf Islam. Ia penyanyi yang sangat terkenal, terutama dikenal sebagai seorang penulis lagu dari Britania. Sebagai Cat Stevens, ia berhasil menjual 40 juta album, kebanyakan pada tahuan 1960-an dan 1970-an. Lagu-lagunya yang paling popular termasuk morning has broken, peace train, moon shadow, wild shadow, father and son, matthew and son, dan oh very young.

Cat Stevens menjadi seorang mualaf dan memeluk agama Islam pada tahun 1978 setelah mengalami near-death experience. Ia lalu mengambil nama Yusuf Islam dan menjadi seorang pendakwah. Satu dasawarsa berikutnya, ia pernah menjadi kontroversi ketika melontarkan pernyataan mendukung fatwa yang menentang hukuman bagi penulis kontroversial Salman Rushdie.

Pada tahun 2004 nama Yusuf Islam kembali dibicarakan lagi setelah ia ditolak masuk Amerika Serikat karena namanya ditemukan pada sebuah daftar tidak boleh terbang. Namun setelah dilakukan pemeriksaan secara mendalam, ternyata terjadi kekeliruan.

Yusuf Islam sekarang tinggal di London bersama istri dan lima anaknya dimana ia menjadi anggota jamaah yang aktif. Ia mendirikan yayasan kemanusiaan Small Kindness yang mulanya menolong korban kelaparan di Afrika dan sekarang membantu ribuan anak yatim dan keluarga di Balkan, Indonesia, dan Irak. Yusuf Islam juga mendirikan yayasan kemanusiaan Muslim Aid. Namun ia meninggalkannya sebagai ketua pendiri pada 1999.

Dalam pengakuannya, Yusuf Islam terlahir dari sebuah rumah tangga nasrani yang berpandangan materialis. Ia tumbuh besar seperti saudara-saudaranya yang lain. Setelah dewasa, muncul kekagumannya setelah melihat para artis yang ia saksikan lewat berbagai media massa sampai menganggap mereka sebagai dewa tertinggi.

Setelah beranjak dewasa, ia pun bertekad mengikuti pengalaman mereka. Dan benar, ternyata ia menjadi salah seorang bintang pop terkenal yang tampil di berbagai media massa. Pada saat itu ia merasa dirinya lebih besar dari alam ini. “Dipuncak ketenaranku, aku merasa seolah-olah usiaku lebih panjang daripada kehidupan dunia dan seolah-olah akulah orang pertama yang dapat merasakan kehidupan itu” Kata Yusuf Islam.

Namun pada suatu hari ia jatuh sakit dan terpaksa diopname di rumah sakit. Pada saat itulah ia mempunyai kesempatan untuk merenung hingga menemukan kenyataan bahwa dirinya hanya sepotong jasad, dan apa yang selama ini ia lakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan jasad. “Aku menilai bahwa sakit yang aku derita merupakan cobaan Ilahi dan kesempatan untuk membuka mataku. Mengapa aku disini? Apa yang aku lakukan dalam kehidupan ini?”

Setelah sembuh, Yusuf Islam mulai banyak memperhatikan dan membaca seputar permasalahan ini, lalu membuat beberapa kesimpulan yang intinya bahwa manusia terdiri dari ruh dan jasad. Alam ini pasti mempunyai Ilahi. Selanjutnya ia kembali ke gelanggang music, namun dengan gaya musik yang berbeda.

Pada suatu hari ia bertemu dengan teman lama yang beragama nasrani pergi melawat ke Masjidil Aqsa. Ketika kembali, ia bercerita, ada suatu keanehan yang ia rasakan di saat melawat masjid tersebut. Ia dapat merasakan adanya kehidupan rohani dan ketenangan jiwa di dalamnya. Ini semua mendorongnya untuk membeli Al-Qur’an terjemahan dan ingin tahu bagaimana tanggapannya terhadap Al-Qur’an.

Ketika Yusuf Islam membaca Al-Qur’an, ia dapati bahwa Al-Qur’an mengandung jawaban atas semua persoalan yang ia hadapi selama ini. “Siapa aku ini? Darimana aku datang? Apa tujuan dari sebuah kehidupan? Aku baca Al-Qur’an berulang-ulang dan aku merasa kagum terhadap tujuan dakwah agama ini yang mengajak untuk menggunakan akal sehat, dorongan untuk berakhlak mulia dan aku pun mulai merasakan keagungan Sang Pencipta,” Katanya.

Semakin kuat perasaan yang menggelayuti pikirannya muncul dari dalam jiwanya, yang membuat perasaan bangga terhadap diri sendiri semakin kecil dan rasa butuh terhadap Ilahi Yang Maha Kuasa atas segalanya semakin besar di dalam relung jiwa yang terdalam.

Puncaknya, pada suatu Jumat, ia bertekad untuk menyatukan akal dan pikiran yang baru tersebut dengan segala perbuatannya. Cat Stevens harus menentukan tujuan hidup dan melangkan menuju masjid dan mengumumkan keislamannya.

Sumber:
Jurnal Halal No. 108 Juli-Agustus Th. XVII 2014



Songket Lampung Motif Kapal

Motif Kapal (STANDAR)


- Songket tenun khas Lampung dengan hiasan motif dari benang emas yang dirangkai dengan metode sulam tangan.
- Ukuran panjang kain = 100 cm dan lebar = 60 cm.
- Songket khusus yang didesain untuk hiasan atau pajangan dinding.
- Motif dibuat dari benang emas pelintir kualitas tinggi.
- Asli dibuat oleh pengrajin Lampung
- Harga Rp 550.000,-
- Gratis biaya kirim untuk wilayah Jabodetabek


Songket Kapal (Standar)

========================================================

Motif Kapal Naga


- Songket tenun khas Lampung dengan hiasan motif dari benang emas yang dirangkai dengan metode sulam tangan.
- Ukuran panjang kain = 100 cm dan lebar = 60 cm.
- Songket khusus yang didesain untuk hiasan atau pajangan dinding.
- Motif dibuat dari benang emas pelintir kualitas tinggi.
- Asli dibuat oleh pengrajin Lampung
- Harga Rp 800.000,- 
- Gratis biaya kirim untuk wilayah Jabodetabek



Songket Kapal Naga

Songket Tenun Motif Asmaul Husna

- Songket tenun khas Lampung dengan hiasan motif dari benang emas yang dirangkai dengan metode sulam tangan.
- Ukuran panjang kain = 150 cm dan lebar = 75 cm.
- Motif 99 nama Allah
- Songket khusus yang didesain untuk hiasan atau pajangan dinding.
- Motif dibuat dari benang emas pelintir kualitas tinggi.
- Asli dibuat oleh pengrajin Lampung
- Harga Rp 1.800.000,-
- Gratis biaya kirim untuk wilayah Jabodetabek

99 nama Allah



Songket Tenun Motif Al-Fatihah

- Songket tenun khas Lampung dengan hiasan motif dari benang emas yang dirangkai dengan metode sulam tangan.
- Ukuran panjang kain = 100 cm dan lebar = 60 cm.
- Songket khusus yang didesain untuk hiasan atau pajangan dinding.
- Motif dibuat dari benang emas pelintir kualitas tinggi.
- Asli dibuat oleh pengrajin Lampung
- Harga Rp 800.000,-
- Gratis biaya kirim untuk wilayah Jabodetabek


Songket Al-Fatihah

Biografi Ar-Raniry

Syaikh Nuruddin Bin Ali bin Hasanji bin Muhammad Humaid Ar Raniry adalah tokoh Islam yang lahir di Ranir (Rander), suatu bandar yang tidak jauh dari Gujarat, India. Beliau hidup antara tahun 1600 sampai 1658 M. Ia merupakan keturunan Quraisy dari Bani Humaid yang bermukim di Hadramaut yang bernama Hasan.

Nuruddin Ar-Raniry lahir pada abad ke 10 H atau 16 M di Ranir wilayah Surat, Gujarat, pantai Barat India. Ayahnya Ali Ar-Raniri dan ibunya asli orang Melayu. Daerah asal Al-Raniri, sebagaimana layaknya kota-kota pelabuhan yang lain, sangat ramai dikunjungi para pendatang (imigran) dari berbagai penjuru dunia. Ada yang berasal dari Timur-Tengah, Asia Selatan, Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa. Tujuan utama mereka untuk melakukan aktivitas perdagangan dan mencari sumber-sumber ekonomi baru.

Disamping itu, mereka juga berdakwah dan menyebarluaskan ilmu agama, sehingga menghabiskan waktu berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Dari Ranir pula, mereka kemudian berlayar kembali menuju pelabuhan-pelabuhan lain di Semenanjung Melayu dan Hindia untuk keperluan yang sama. Jadilah orang Ranir dikenal sebagai masyarakat yang gemar merantau dari satu tempat ke tempat yang lain.

Pola hidup yang berpindah-pindah seperti ini juga terjadi pada keluarga besar Al-Raniri sendiri, yaitu ketika pamannya, Muhammad Al-Jilani bin Hasan Muhammad Al-Humaydi, datang ke Aceh (1580-1583) untuk berdagang sekaligus mengajar ilmu-ilmu agama, seperti fikih, ushul fikih, etika, manthiq, dan retorika. Kebanyakan dari mereka (perantau) biasanya menetap di kota-kota pelabuhan di pantai Samudera Hindia dan wilayah kepulauan Melayu-Indonesia.

Ar-Raniry sangat fasih bercakap dan menulis dalam bahasa Melayu dan tinggal di Aceh dari tahun 1637-1644 M. Pada mulanya ia mempelajari ilmu-ilmu keagamaan di Ranir. Untuk menambah ilmunya ia kemudian merantau ke negeri-negeri Arab, diantaranya  Hadramaut, Mekah, dan Madinah.

Di tanah Arab, ia pernah berguru kepada Abu Hafas Saiyid Umar bin Abdullah bin Syaiban dari Terim. Selama di Ranir dan di Arab, ia juga mempelajari bahasa Melayu, yang waktu itu sangat penting sebagai bahasa penghubung di kepulauan nusantara, sehingga ketika ia hijrah ke tanah Melayu dan Aceh, ia sudah fasih berbahasa Melayu.

Pada tahun 1618 M, merantau ke Aceh Darussalam yang waktu itu menjadi pusat ilmu dan pusat perdagangan. Dan tempat yang pertama kali ia singgahi adalah semenanjung Malaya, waktu itu berada dalam kekuasaan Aceh Darussalam. Ia lama bermukim di Malaka dan Pahang, kemudian tahun 1630 ia pindah ke Aceh, pada masa Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M).

Di Aceh Darussalam ini ia dipercaya untuk mengajari anak-anak raja, diantaranya puteri Safiah dan putera Husein bin Sultan Ahmad dari tanah Melayu. Disamping itu, ia juga menjadi guru besar pada lembaga pendidikan Baiturrahman.

Ar-Raniry meninggalkan Aceh pada penghujung pemerintahan Iskandar Muda. Diperkirakan kepergiannya karena perbedaan dengan Syamsuddin Sumatrani tentang wihdatul wujud, karena ia termasuk yang menentangnya.

Setahun setelah meninggalnya Sultan Iskandar Muda, ia kembali ke Aceh Darussalam yang pada waktu itu diperintah oleh bekas muridnya, Sultan Iskandar Sani. Ar-Raniry sampai di Aceh 6 Muharam 1047 H/31 Mei 1637 M dan diangkat menjadi Qadli Malikul Adil yang 1 tahun kosong setelah Syamsuddin Sumatrani meninggal dunia pada akhir pemerintahan Iskandar Muda.
Setelah Iskandar Sani meninggal dan digantikan istrinya Sultanah Safiatudin, ia tetap dipercaya menjadi Qadli Malikul Adil, disamping menjadi guru besar Baiturrahman.

Dengan naiknya Iskandar Tsani dan Sultanah Safiatuddin, Ar-Raniry mendapat dukungan, sehingga ia bisa bertindak keras terhadap pendukung paham wihdatul wujud. Banyak buku Hamzah Fansury dan Syamsuddin Pase yang dirusak dan dibakar, dan para pengikutnya dikejar-kejar sehingga menimbulkan perang saudara yang melumpuhkan Aceh. Mulai saat itulah dapat dikatakan tamatlah riwayat paham wihdatul wujud dikalangan tasawuf dari bumi Sumatra.

Nuruddin Ar-Raniry adalah ulama terkemuka, ahli fikih yang dikenal dengan puluhan karya intelektualnya yang dituangkan dalam berbagai buku. Salah satu bukunya yang sangat terkenal adalah As-Sirat Al-Mustaqim (jalan lurus). Buku ini membicarakan berbagai masalah ibadah, antara lain shalat, puasa, dan zakat.

Ar-Raniry juga dikenal sebagai ulama yang berjasa dalam menyebarluaskan bahasa Melayu di kawasan Asia Tenggara. Karya-karyanya ini membuat bahasa Melayu semakin popular dan tersebar luas sebagai lingua franca serta menjadi bahasa Islam kedua setelah bahasa Arab.

Hasil karya tulisnya sangatlah banyak, baik adalam bahasa Arab maupun bahasa Melayu. Diantara karangan yang terkenal adalah Ash-Shiratul Mustaqim, kitab tentang fikih; Duraru Faraidh bi Syahril Zikril Auwalin Akhirin, sebuah kitab tentang sejarah Kerajaan Islam Melayu; Akhbarul Akhirah Fi Auwali Yaumil Qiyamah, membahas Hari Kebangkitan; Hidayatul Habib Fit Targhib wa Tarhib, menguraikan masalah akhlak; At-Tibyan fi Ma’rifatil Adyan, menguraikan tentang aliran agama; dan Asrarul Insan Fi Ma’rifatil Ruhi wa Rahman, membahas ruh dan ketuhanan.

Jaringan Ulama

Jejak intelektual Al-Raniry sendiri dimulai saat melakukan perjalanan dengan belajar ilmu agama di tanah kelahirannya (Ranir), sebelum berkelana ke Tarim, Hadramaut, Arab Selatan yang ketika itu menjadi pusat studi agama Islam. Pada tahun 1621 M, ia mengunjungi Mekah dan Madinah untuk menunaikan ibadah haji dan berziarah ke makam nabi. Di tanah haram inilah Ar-Raniry menjalin hubungan dengan para jamaah haji dan orang-orang yang sudah menetap dan belajar di Arab, yang kebetulan berasal dari wilayah nusantara.

Dalam kapasitas seperti ini, Ar-Raniry sudah dapat dikategorikan telah menjalin hubungan dengan orang-orang Melayu, khususnya dalam hal komunikasi intelektual Islam. Jalinan hubungan inilah yang menjadi awal mula bagi perjalanan intelektual Islam Ar-Raniry di kemudian hari.

Dalam perkembangannya, ia juga merupakan seorang syekh tarekat Rifa’iyah yang didirikan oleh Ahmad Rifai. Ia belajar ilmu tarekat ini melalui ulama keturunan Arab Hadramaut, Syekh Said Abu Hafs Umar bin Abdullah atau yang dikenal di Gujarat dengan sebutan Sayid Umar Al-Aydrus.

Pada abad ke 17, di Kerajaan Aceh terdapat empat ulama besar silih berganti, yaitu Hamzah Fansuri dan muridnya Syamsuddin As-Sumatrani, keduanya merupakan tokoh ahli tasawuf yang beraliran wihdatul wujud.

Ulama ketiga di Aceh, Syekh Nuruddin Ar-Raniry, sangat menentang ajaran Hamzah dan muridnya. Kemudian keempat yaitu Abdur Rouf As-Sinkili yang nantinya berusaha mengambil jalan tengah pertentangan  antara pengikut Nuruddin dengan kedua pengikut ulama sebelumnya.

Pada tahun 1068 H/ 1657 M, ia meninggalkan Aceh dan kembali ke tanah airnya. Ia meninggal di daerahnya 22 Zulhijah 1069 H/ 21 September 1658 M.

Sumber:

Jurnal Halal No. 107 Mei-Juni Th. XVII 2014